Puisi Gadis Peminta - minta Karya Toto Sudarto Bachtiar

Puisi Gadis Peminta – minta Karya Toto Sudarto Bachtiar

Puisi

Puisi Gadis Peminta – minta Karya Toto Sudarto Bachtiar adalah seorang penyair Indonesia yang lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada 12 Oktober 1929. Ia merupakan penyair angkatan 1950-1960-an yang dikenal masyarakat luas dengan puisinya, antara lain Pahlawan Tak Dikenal, Gadis Peminta-minta, Ibu kota Senja, Kemerdekaan, Ode I, Ode II, dan Tentang Kemerdekaan.

Terbuka di jendela baruensiklopedia.kemdikbud.go.id

Toto Sudarto Bachtiar

Toto Sudarto Bachtiar menempuh pendidikan di MULO Bandung pada tahun 1950. Setelah lulus, ia bekerja sebagai redaktur majalah Angkasa di Jakarta. Di sana, ia mulai menulis sajak, menerjemahkan cerita pendek, esai, artikel kebudayaan, sastra, politik, dan masih banyak lagi.

Pada tahun 1956, Toto Sudarto Bachtiar menerbitkan kumpulan puisi pertamanya berjudul “Suara”. Kumpulan puisi ini berhasil memenangkan Hadiah Sastra BMKN pada tahun 1957. Pada tahun 1958, ia menerbitkan kumpulan puisi kedua berjudul “Etsa”.

Toto Sudarto Bachtiar juga dikenal sebagai seorang penerjemah yang produktif. Ia telah menerjemahkan sejumlah naskah drama, kumpulan cerpen, dan novel karya para sastrawan dunia, antara lain:

  • “Pelacur” karya Jean-Paul Sartre
  • “Sulaiman yang Agung” karya Harold Lamb
  • “Bunglon” karya Anton Chekhov
  • “Bayangan Memudar” karya Breton de Nijs
  • “Pertempuran Penghabisan” karya Ernest Hemingway
  • “Sanyasi” karya Rabindranath Tagore

Toto Sudarto Bachtiar meninggal dunia di Paris, Prancis, pada 9 Oktober 2007, pada usia 77 tahun. Ia meninggalkan warisan berupa karya-karya sastra yang abadi dan menginspirasi.

Karya-karya Toto Sudarto Bachtiar didominasi oleh tema-tema kemanusiaan, seperti perjuangan, penderitaan, dan harapan. Puisi-puisinya menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, namun tetap sarat makna.

Puisi-puisi Toto Sudarto Bachtiar telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda. Ia telah menerima sejumlah penghargaan, termasuk:

  • Hadiah Sastra BMKN (1957)
  • Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1999)
  • Penghargaan Satya Lencana Kebudayaan (2003)

Toto Sudarto Bachtiar merupakan salah satu penyair Indonesia yang paling berpengaruh. Karya-karyanya telah menginspirasi banyak orang dan menjadi bagian dari khazanah sastra Indonesia.

“Gadis Peminta-minta” puisi karya Toto Sudarto Bachtiar adalah puisi yang bertema kemanusiaan. Puisi ini menceritakan tentang nasib para pengemis di Indonesia, terutama di Jakarta.

Puisi ini terdiri dari empat bait dengan 16 larik. Bait pertama menggambarkan sosok gadis pengemis yang sedang mengamen di malam hari. Gadis itu tampak kecil dan lemah, dengan senyum yang selalu tersungging di wajahnya.

Bait kedua menggambarkan dunia gadis pengemis yang berbeda dari dunia orang-orang pada umumnya. Dunia gadis pengemis itu penuh dengan impian dan harapan, meski kenyataannya ia hidup dalam kemiskinan dan keterpurukan.

Bait ketiga menggambarkan kegelisahan hati si aku penyair yang melihat nasib gadis pengemis itu. Ia merasa iba dan prihatin dengan keadaan gadis itu.

Bait keempat menggambarkan harapan si aku penyair agar gadis pengemis itu bisa menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.

Secara umum, puisi ” Peminta-minta” memiliki makna yang mendalam. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih memperhatikan nasib para pengemis. Puisi ini juga mengingatkan kita bahwa semua orang, termasuk para pengemis, adalah manusia yang memiliki hak untuk hidup dengan layak.

Berikut adalah beberapa unsur intrinsik puisi “Gadis Peminta-minta”:

  • Tema: Kemanusiaan
  • Tokoh: Gadis pengemis, si aku penyair
  • Latar: Jakarta, malam hari
  • Alur: Maju
  • Sudut pandang: Orang pertama
  • Gaya bahasa: Figuratif, metafora, personifikasi

Puisi ini merupakan salah satu karya Toto Sudarto Bachtiar yang paling terkenal. Puisi ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan telah dipelajari oleh banyak orang di seluruh dunia.

Puisi Gadis Peminta – minta

Gadis kecil berkaleng kecil

Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

Tengadah padaku pada bulan merah jambu

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral

Melintas-lintas di atas air kotor, tetapi yang begitu kau hafal

Menyusuri lorong-lorong kelam penuh harapan

Aku terpana melihatmu

Dan hatiku bertanya-tanya

Dari mana asalmu

Dan ke mana kau akan pergi

Apakah kau pernah merasakan cinta

Apakah kau pernah merasakan kasih sayang

Apakah kau pernah merasakan kebahagiaan

Aku ingin kau bahagia

Aku ingin kau tersenyum

Aku ingin kau hidup dalam cinta dan kasih sayang

Gadis kecil berkaleng kecil

Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

Tengadah padaku pada bulan merah jambu

Puisi ini menggambarkan sosok gadis pengemis yang sedang mengamen di malam hari. Gadis itu tampak kecil dan lemah, dengan senyum yang selalu tersungging di wajahnya. Senyumnya yang selalu tersungging itu menunjukkan bahwa ia adalah gadis yang tabah dan tegar, meski ia hidup dalam kemiskinan dan keterpurukan.

Gadis pengemis itu memiliki dunia yang berbeda dari dunia orang-orang pada umumnya. Dunianya penuh dengan impian dan harapan, meski kenyataannya ia hidup dalam kemiskinan dan keterpurukan. Ia memiliki impian untuk hidup bahagia dan sejahtera, seperti orang-orang pada umumnya.

Si aku penyair, yang melihat nasib gadis pengemis itu, merasa iba dan prihatin. Ia ingin gadis itu bisa menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Ia ingin gadis itu bisa merasakan cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan, seperti orang-orang pada umumnya.

Puisi ini memiliki makna yang mendalam. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih memperhatikan nasib para pengemis. Puisi ini juga mengingatkan kita bahwa semua orang, termasuk para pengemis, adalah manusia yang memiliki hak untuk hidup dengan layak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *